Banyak Hikmah Memuliakan Orang Yang Sudah Lanjut Usia

Redaksi

Syech.com – Banyak ajaran islam yang patut kita amalkan, salah satu ajaran Islam itu adalah memuliakan dan menghormati orang-orang yang lanjut usia (lansia). Sikap tersebut amat dianjurkan, terutama pada generasi muda.

Dalam sebuah hadits, sebagaimana yang diriwayatkan Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Pada waktu pagi dan sore, Allah SWT melihat wajah orang yang sudah tua dan berfirman, ‘Wahai hamba-Ku, engkau telah menua. Kulitmu tipis. Tulangmu rapuh. Ajalmu kian dekat. Dan kedatanganmu kepada-Ku telah dekat. Karena itu, bersikaplah malu kepada-Ku. Sebab, Aku malu karena ubanmu untuk menyiksamu di neraka.’”

Baca juga : Mualaf Andrew Tate : Islam Agama Paling Dihargai Pengikutnya

Dalam hal ini, keteladanan dapat kita petik dari kisah-kisah para orang-orang saleh dahulu (salaf ash-shalih). Dalam dalam sebuah kisah disebutkan, bahwa pada suatu hari Sayyidina Ali bin Abi Thalib pergi ke Masjid Nabawi untuk turut berjamaah melaksanakan shalat subuh. Sepupu Nabi SAW itu melangkah dengan tergesa-gesa karena takut menjadi jamaah masbuk.

Keteladanan dapat kita ambil dari kisah-kisah para orang-orang saleh dahulu.

Namun, di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang lansia yang berjalan dengan lamban. Gerakan orang tua itu seakan-akan tertahan sendi-sendinya yang telah rapuh. Karena hendak memuliakannya, Ali pun enggan berjalan melewatinya.

Baca juga : 10 Tradisi Unik Menyambut Kedatangan Ramadhan di Indonesia

Alhasil, waktu kian mendekati akhir subuh. Ketika hampir mendekati Masjid Nabawi, ternyata orang tua itu tidak masuk ke dalamnya. Barulah kemudian Ali mengerti bahwa ternyata sang lansia adalah seorang Nasrani.

Kemudian, Sayyidina Ali masuk ke dalam masjid, dan mendapati Rasulullah SAW masih dalam keadaan rukuk. Dalam hatinya, suami Fathimah binti Muhammad SAW itu bersyukur karena masih sempat menjadi jamaah non-masbuk. Ia pun langsung mengikuti shalat di belakang sang al-Musthafa.

Seusai shalat berjamaah, Sayyidina Ali baru mengetahui dari beberapa sahabat di sebelahnya, bahwa rukuk Rasul SAW kali itu terasa lebih lama daripada biasanya. Maka, sesudah beberapa saat, Ali pun memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau, “Wahai Rasul, mengapa engkau memanjangkan rukuk pada shalat ini? Padahal, engkau tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya.”

Kemudian, Rasulullah SAW menjawab, “Tatkala aku rukuk dan berkata, ‘Subhana rabbiyal adzimi’, sebagaimana wirid itu dibaca, aku hendak mengangkat kepada (melakukan i’tidal), tiba-tiba Malaikat Jibril meletakkan sayapnya di atas punggungku dan melakukan itu dalam waktu lama. Selang beberapa waktu, Jibril mengangkat sayapnya sehingga aku pun mengangkat kepalaku.”

Baca juga : Keadaan di Yaumul Hisab Menyeramkan, Ini Kuncinya Menurut Buya Yahya

Penasaran, Ali pun bertanya lagi, “Mengapa Jibril melakukan hal demikian?”
Rasulullah SAW menjawab, “Sebenarnya, aku tidak meminta itu. Jibril datang dan berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali tergesa-gesa agar bisa melaksanakan shalat berjamaah bersamamu.

Namun, saat di jalan, ia bertemu dengan seorang Nasrani yang sudah tua. Ali tidak tahu bahwa orang tua itu beragama Nasrani. Meskipun demikian, ia telah memuliakannya, tidak mendahuluinya, dan menjaga haknya. Kemudian, Allah memerintahkanku agar menahanmu saat rukuk sehingga Ali dapat melaksanakan shalat subuh berjamaah’.”

Dalam Kitab Ushfuriyah, Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri menjelaskan bahwa kisah itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Yang lebih menakjubkan lagi ialah, pada saat itu Allah SWT juga memerintahkan kepada Malaikat Mikail untuk “menahan” matahari dengan sayapnya. Alhasil, matahari tidak segera terbit kala hendak shalat Ali.

“Semua ini mengindikasikan perlunya menghormati seorang tua renta meskipun ia Nasrani,” jelas Syekh Muhammad (Kitab Ushfuriyah, halaman 23).

Selain kisah di atas, ada pula kisah lain yang cukup menarik tentang memuliakan lansia. Dikisahkan, ketika kematian guru Abu Manshur al-Maturidi kian dekat, tokoh Aswaja yang saat itu berusia 80 tahun itu memerintahkan kepada muridnya, Abu Manshur untuk mencari seorang budak yang umurnya sama dengannya. Ia hendak membeli dan memerdekannya.

Baca juga : Alasan KH Hasyim Asy’ari Menolak Tawaran Jadi Presiden Indonesia

Abu Manshur pun segera mencarinya. Namun, ia tidak menemukan budak yang berusia 80 tahun itu. Orang-orang kemudian berkata Abu Manshur, “Bagaimana engkau menemukan budak berumur 80 tahun, masih dalam status budak, dan belum dimerdekakan?”

Abu Manshur pun kembali kepada gurunya dan memberi tahu tentang perkataan orang-orang kepadanya. Mendengar hal itu, gurunya kemudian meletakkan kepalanya di atas tanah dan bermunajat kepada Allah.

“Tuhanku, sesungguhnya makhluk tidak dapat menanggung orang-orang yang lanjut usia. Karena itu, mereka tidak membiarkannya dalam status budak ketika mencapai umur 80 tahun, bahkan memerdekannya. Aku telah mencapai umur itu, bagaimana Engkau tidak memerdekakanku dari api neraka, padahal Engkau Maha Mulia, Pemurah, Pengampun, dan Penerima syukur?”

Bagikan:

Redaksi

Hobi Menulis dan berbagi informasi